EkbisBisnisNasionalPolitik

Gagal Cegah Gelombang PHK, PKB Minta Menperin Dievaluasi

BIMATA.ID, Jakarta – Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PKB Mohamad Toha meminta Presiden Joko Widodo untuk mengevaluasi Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. Mengingat, kinerja Agus dinilai di bawah performa sehingga layak untuk di-reshuffle.

Demikian disampaikan Mohamad Toha menyikapi kinerja satu tahun kabinet Jokowi-Ma’ruf Amin, kepada wartawan, Jakarta, Selasa (10/11/2020).

“Satu tahun kinerja kabinet Jokowi-Ma’ruf relatif baik. Namun, ada beberapa pos kementerian yang berkinerja di bawah performa. Saya di Komisi VI melihat mitra kerja kami yang berkinerja di bawah performa adalah Kementerian Perindustrian,” papar Toha.

Anggota DPR dari Dapil Solo Raya ini menyampaikan, kinerja kementerian di bawah Agus Gumiwang tersebut tidak menunjukkan kinerja yang baik, terutama dalam menghadapi wabah Covid-19. Agus dinilai gagal mencegah gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Menperin terbukti gagal menciptakan lapangan kerja baru, dan gagal mencegah gelombang PHK. Tidak terlihat ada terobosan dari Menperin untuk mencegah terjadinya PHK,” papar Toha.

Kebijakan yang dikeluarkan Menperin, seperti stimulus dan insentif usaha pun, terbukti tak mengena di kalangan industri. Tercatat, sejak Covid-19 mewabah, dan Indonesia resmi menyandang resesi ekonimu, sebanyak jutaan pekerja terkena PHK yang terjadi di berbagai daerah.

Di Jawa Barat, sedikitnya 500 perusahaan sudah melakukan pengurangan karyawan, baik di-PHK maupun dirumahkan. Di Karawang sedikitnya 5-6 juta buruh kehilangan pekerjaan. Sementara, di Sukabumi, 11 ribu pekerja mengalami hal sama. Teranyar, pabrik sepatu di Cikupa, Tangerang, sedang memproses PHK terhadap 1.800 karyawannya.

PHK terjadi di semua sektor industri dari mulai tekstil dan produk tekstil, manufaktur, perdagangan, makanan dan minuman, elektronik, hingga sector jasa hiburan. Di Jawa Barat sektor yang paling tinggi terjadi PHK di sektor tekstil dan produk tekstil yang mencapai 54,15 persen, dan manufaktur 23,80 persen.

Facebook Comments
Tags

Tulisan terkait

Bimata
Close