Bimata

Poros Partai Islam Dinilai Layu Sebelum Berkembang

BIMATA.ID, Jakarta – Munculnya gagasan koalisi poros partai Islam sebagai persiapan menghadapi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 dinilai akan layu sebelum berkembang. Pasalnya, diperlukan sebuah konsep yang kuat untuk dapat mengakomodir perbedaan pandangan dari partai-partai Islam itu sendiri.

Hal tersebut mengingat semakin banyaknya partai Islam, maka tentu semakin besar juga kepentingan di dalamnya.

“Salah satu faktor yang menjadi penyebab ketertinggalan partai-partai Islam dalam perebutan suara Pemilu dilandasi oleh kurangnya sosok yang dapat dijadikan tokoh,” ujar Direktur Eksekutif Nurjaman Center Indonesia Demokrasi (NCID), Jajat Nurjaman, dalam keterangan tertulis, Senin (19/04/2021).

“Di situlah salah satu kelemahannya, karena dalam pengalaman politik kebelakang, keberhasilan partai nasionalis adalah berhasil menyodorkan berbagai konsep baru dan juga hadirnya sosok figur yang dianggap mumpuni,” tandas Jajat.

Dia menilai, jika wacana kemunculan poros Islam hanya untuk menghindari ketegangan politik berlebih karena hanya diikuti dua calon Presiden (Capres) seperti Pilpres 2014 dan 2019, maka hal ini tidak beralasan.

Sebaliknya, jika kejadian Pilpres 2014 dan 2019 tidak ingin terulang, lebih baik seluruh partai politik (parpol) melakukan intropeksi diri akibat gagal menghadirkan sosok yang layak untuk diusung maju sebagai Capres-Cawapres potensial.

“Tidak ada yang salah jika pada akhirnya partai-partai Islam bersatu dengan membentuk satu poros baru. Namun, semua pihak yang terlibat sebaiknya lebih berhati-hati akan dampak dalam penggunaan politik identisas berbasis agama,” tutur Jajat.

“Untuk itu, alangkah baiknya ke depan wacana seperti ini lebih baik dikaji secara mendalam, agar perpolitikan nasional ke depan bisa lebih menarik simpati masyarakat,” imbuh Jajat.

[MBN]

Exit mobile version