UMKMBeritaEkonomiPolitikRegional

DWS Datangi Para Pelaku UMKM Terdampak Pandemi Covid-19

BIMATA.ID, SLEMAN— Dampak Dari Pademi Covid-19 merupakan pukulan telak terhadap pelaku ekonomi di Indonesia. Mulai dari pengusaha besar, pelaku UMKM, sampai ke bidang jasa.

Hal tersebut pun dirasakan Rubiyati, penjahit yang juga tinggal di Blotan. Wanita yang sudah sepuluh tahun menekuni profesinya tersebut.

Pandemi Covid-19 membuat sebagian besar pelanggan urung menggunakan jasanya.

“Kain yang sudah masuk ke saya akhirnya diambil kembali. Mungkin mereka (para pelanggan) sekarang lebih mementingkan kebutuhan lain. Saya maklum, kok,” ujarnya.

Perempuan yang biasa dipanggil Rubi tersebut menambahkan, sebelum Pandemi Covid-19, dirinya bisa mengantongi omset tiga sampai empat juta rupiah setiap bulannya.

Dalam menyelesaikan pekerjaan tersebut dirinya dibantu dua orang tenaga lepas yang berasal dari tetangga dekatnya.

Rubi mengaku kepada calon bupati Sleman Danang Wicaksana Sulistya (DWS), selama pandemi omsetnya anjlok menjadi satu juta rupiah setiap bulannya.

“Nggak papa, Mas. Semua orang sekarang ngerasain hal yang sama. Walau nggak sebanyak dulu, Alhamdulillah, masih ada yang jahitin baju disini. Disyukuri saja. Tapi saya sedih, tetangga yang biasa bantuin saya sementara ini nggak saya mintain tolong dulu buat bantu- bantu,” imbuhnya.

Kepada DWS, Rubi berharap jika pasangan Raden Agus Choliq (ACH) tersebut terpilih menjadi Bupati Sleman dalam Pilkada Sleman mendatang bisa membantunya mendapatkan akses modal lunak untuk menambah jumlah mesin jahit guna membesarkan usahanya.

“Saya kepingin nambah mesin (jahit), biar bisa produksi (pakaian) untuk dijual. Tidak hanya bikin pesanan seperti sekarang,” harapnya.

Dengan naik kelas dari penjual jasa jahit pakaian menjadi produsen, dirinya bisa menjadikan tetangga- tetangganya tersebut menjadi tenaga tetap.

“Mas Danang kalau besok terpilih jadi bupati, tolong saya dibantu, ya. Biar (tetangga) yang biasa bantu- bantu saya selama ini bisa punya penghasilan tetap,” pinta Rubi kepada DWS.

 

DWS juga mendatangi tempat produksi mie mentah yang biasa digunakan untuk mie ayam yang letaknya tidak jauh dari rumah Rubiyati.

Industri rumahan yang dimiliki oleh Sularman tersebut memiliki cerita yang sedikit berbeda dari dua tetangganya. Usaha yang berdiri sejak tahun 1995 tersebut terpaksa memangkas produksi akibat penerapan kuota yang diterapkan oleh pemasok tepung terigu.

Menurut Sularman, sebelum Pandemi Covid-19 terjadi, dirinya bisa menghabiskan 15 karung terigu ukuran 25 kilogram setiap harinya.

Tapi sekarang, Sularman mengaku hanya diperbolehkan membeli 100 karung terigu ukuran 25 kilogram oleh pemasoknya.

Akibatnya omsetnya jatuh lebih dari lima puluh persen.

Bila sebelumnya pria yang memulai usahanya sebagai penjual mie ayam keliling pada tahun 1991 tersebut bisa mengatongi omset 5 juta rupiah setiap harinya, kini tinggal 2 juta rupiah saja.

“Mau gimana lagi. Sebenarnya pesanan justru meningkat karena sekarang banyak yang bikin usaha (racikan) mie ayam setengah mateng buat dijual keliling maupun dijual online. Mudah- mudahan Mas Danang bisa bantu ngasih solusi kalau besok kepilih jadi Bupati (Sleman),” harapnya kepada DWS.

(Bagus)

Facebook Comments
Tags

Tulisan terkait

Bimata
Close