
BIMATA.ID, Jakarta- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini bukan sekadar wacana, melainkan sebuah ekosistem besar yang bergerak hampir 24 jam penuh. Di balik piring-piring makanan yang sampai ke meja siswa hingga ibu menyusui, ada kerja keras tim Satuan Pelaksana Pelayanan Gizi (SPPG) yang jarang tersorot kamera.
Anggota Komisi III DPRD Jawa Barat, Hj. Tina Wiryawati, S.H., M.M., memaparkan betapa krusialnya peran tim ini dalam menjaga amanah pemerintah. Menurutnya, proses pengolahan makanan tidak bisa dilakukan dengan sembarangan karena menyangkut keselamatan dan kesehatan kelompok rentan.
Bunda Tina, sapaan akrab politisi Gerindra ini, menjelaskan bahwa tantangan terbesar tim SPPG terletak pada manajemen waktu. Operasional dapur justru mencapai puncaknya saat sebagian besar masyarakat sedang beristirahat, demi memastikan makanan sampai dalam kondisi segar dan tepat waktu.
BACA JUGA: Arahan Prabowo untuk Dewan Energi: Hindari Impor BBM hingga Swasembada Energi
“Persiapan dan pengolahan serta distribusi tanggung jawab MBG dari SPPG mengapa berat, karena seluruh persiapan hingga selesai dilakukan dari sore hingga pagi hari,” ungkap Tina Wiryawati dalam penjelasannya kepada media, Jumat (30/1/2026).
Jadwal kerja yang “terbalik” ini dilakukan bukan tanpa alasan. Karena target penerima manfaatnya adalah siswa, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, maka setiap langkah pengolahan harus dipastikan higienis dan memiliki kandungan nutrisi yang tidak berkurang sedikit pun.
Tina menambahkan bahwa setiap personel di SPPG dituntut untuk memiliki ketelitian tingkat tinggi. Pasalnya, kesalahan kecil dalam proses pengolahan bisa berdampak fatal pada kesehatan masyarakat yang menjadi sasaran program nasional ini.
“Harus dilakukan secara cermat agar MBG untuk para Penerima Manfaat yaitu siswa, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita mendapatkan makanan sesuai dengan tujuan Pemerintah yaitu pemenuhan gizi yang seimbang,” tutur legislator dari Dapil Kuningan, Ciamis, Pangandaran, dan Kota Banjar tersebut.
BACA JUGA: Dapat Becak Listrik, Penarik Becak Sidoarjo Ramai-ramai Panjatkan Doa untuk Prabowo
Lebih lanjut, Bunda Tina menegaskan bahwa kecermatan ini adalah harga mati. Ia mengkhawatirkan munculnya insiden medis jika SOP (Standar Operasional Prosedur) pengolahan makanan dilanggar oleh oknum petugas di lapangan yang kurang disiplin.
“Tujuannya agar tidak mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan,” tegasnya, merujuk pada risiko keracunan makanan atau ketidaksesuaian kandungan gizi yang bisa saja terjadi jika pengawasan longgar.
Dengan tantangan yang sedemikian rupa, Tina berharap rencana pengangkatan tenaga inti SPPG menjadi PPPK dibarengi dengan komitmen profesionalisme. Menurutnya, dedikasi waktu dari sore hingga pagi tersebut haruslah dijalankan oleh orang-orang yang memang kompeten dan memiliki rasa tanggung jawab besar terhadap kesehatan publik.
BACA JUGA: Tiba di Tanah Air, Prabowo Bawa Oleh-Oleh Investasi Rp90 Triliun hingga Peluang Perdamaian Gaza




