Bimata

Ketua MPR RI Dukung FKPPI Produksi Film Anak Kolong

BIMATA.ID, Jakarta Ketua MPR RI sekaligus Wakil Ketua Umum Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan dan TNI Polri (FKPPI)/Kepala Badan Bela Negara FKPPI Bambang Soesatyo mengungkapkan FKPPI melalui PIM Pictures dan Garasi Film akan memproduksi film ‘Anak Kolong’.

Berbagai tokoh perfilman akan terlibat di dalamnya, antara lain Rudy Salim sebagai produser, yang juga pernah memproduseri berbagai film bersama Raffi Ahmad.

“Agustinus Sitorus juga akan menjadi produser, beliau sangat berpengalaman sebagai produser di berbagai film nasional seperti ‘Filosofi Kopi’, dan ‘Love For Sale’. Sebagai sutradara, dipercayakan kepada Ivan Bandhito yang punya pengalaman panjang sebagai sutradara. Karyanya antara lain, ‘Kau Dan Dia’ yang tayang di Maxstream, ‘Meraih Mimpi di Awan’ yang dinominasikan dan meraih 2 penghargaan di Festival Film Bandung untuk Pemeran Wanita Terpuji dalam Film Televisi dan Festival Film Bandung untuk Pemeran Pria Terpuji di Film Televisi, serta berpengalaman membuat 150 judul film FTV “, ujar Bamsoet usai menerima pengurus FKPPI yang akan memproduksi film ‘Anak Kolong’, di Jakarta, Jumat (4/11/22).

Pengurus FKPPI yang hadir antara lain, Mohammad Sholahuddin, Bambang Dirgantoro, Agustinus Sitorus, Bambang Mukti Nugroho, Hendra, Hery Haryanto Azumi, dan Aji Prabowo.

Ketua DPR RI ke-20 dan mantan Ketua Komisi III DPR RI bidang Hukum, HAM, dan Keamanan ini menjelaskan, penulis skenario film ‘Anak Kolong’ dipercayakan kepada Armantono. Sejak tahun 1990 hingga sekarang telah menulis berbagai skenario film cerita maupun drama televisi, antara lain ‘Virgin’ (2004) dan ‘Hafalan Shalat Delisa’ (2011). Armantono juga menulis skenario film Malaysia yaitu ‘Lagenda Budak Setan’ (2011) dan ‘Ombak Rindu’ (2012) yang diadaptasi dari novel dengan judul yang sama.

“Film ‘Anak Kolong’ menceritakan pesan moral, perjuangan hidup, hingga pentingnya menjaga pluralisme dalam kebangsaan. Ada lima karakter tokoh yang terdapat di dalam film ‘Anak Kolong’, dengan latar belakang berbeda. Tokoh utamanya, Arya, merupakan anak seorang prajurit AD dengan kehidupan yang serba pas-pasan. Ia mempunyai 2 orang adik yang tinggal di salah satu asrama dengan ukuran yang serba pas-pasan juga. Arya mendapat didikan disiplin dari ayahnya yang merupakan seorang prajurit, hingga akhirnya ia berhasil menyelesaikan lulusan akademi militer dengan predikat terbaik,” jelas Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar dan Kepala Badan Hubungan Penegakan Hukum, Pertahanan dan Keamanan KADIN Indonesia ini menerangkan, ‘Anak Kolong’ merupakan sebutan dalam bahasa sehari-hari untuk anak tentara atau anak yang besar di asrama tentara. Istilah ini telah dipakai sejak masa penjajahan Belanda di Indonesia. Asal usul istilah ini berasal dari keadaan tangsi anggota KNIL yang sangat memprihatinkan.

“Tentara yang berkeluarga ditempatkan pada asrama dengan ukuran kecil dan berhimpitan. Karena kecilnya ruangan, seringkali tidak cukup untuk ditempati lebih dari satu tempat tidur. Akibatnya anak-anak terpaksa tidur di bagian bawah dipan atau kolong. Dari sinilah muncul istilah tersebut. Karena itu kehadiran film ini sangat penting, dan pasti akan mendapatkan sambutan meriah, khususnya dari keluarga besar TNI-Polri dan juga anak-anak kolong,” tutup Bamsoet.

(Wahyu Widodo)

Exit mobile version