Bimata

Sosok Anies Yang Tidak Menarik Pada Akhirnya Ditarik Oleh Prabowo

BIMATA.ID, Jakarta- Tiga belas hari sebelum memasuki masa purna tugasnya sebagai Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan langsung tancap gas memamerkan dirinya sebagai calon presiden dari partai Pak Paloh. Padahal, sekonyong-konyong ia akan mengakhiri masa jabatannya sebagai orang nomor satu di DKI, ia perlu menahan diri hingga ditetapkan masa purna baktinya sebagai Gubernur. Hal ini ditunjukan bukan karena apa melainkan agar ia tetep terlihat menarik.

Alhasil pasca diumumkannya Anies sebagai calon presiden dari partai yang diarsiteki pak Paloh itu, bukan malah mendapat sambutan manis dari kader partai pak Paloh. Sebaliknya kenyataan yang ada beberapa pengurus dan juga para kader yang telah membesarkan Nasdem justru ramai-ramai angkat kaki dan menyatakan diri keluar dari partainya. Dengan kata lain, Anies tidak semenarik dengan apa yang orang-orang pikirkan bukan? Sungguh tidak semenarik itu.

Lagipula apa yang dipertontonkan Anies tidak lain dan tidak bukan adalah pembuktian dirinya betapa ia adalah orang yang tidak konsisten dalam ucapannya. Benar begitu bukan? Bagian ini tentu saya tidak bisa menampilkan dalam catatan ini. Tapi toh jika saudara pembaca mau tahu, tanya saja ke Mbak Nana yang pernah mewawancarai Anies di acara realitu show-nya.

Lalu mari sama-sama kita kembali ke belakang jauh sebelum Anies menjadi Calon Presiden yang tidak menarik kini. Hihi..

Jika saudara masih ingat pun masih sadar dalam ingatan. Pada periode pertama Presiden Jokowi berkuasa dan saat itu kabinet yang disusunnya sedang diterpa badai reshuffle, ingatkah saudara siapa salah satu menteri yang terkena imbasnya? Jika suadara ingat silakan eja namanya. Cukup dalam hati tidak perlu bersuara. Agar tidak terlalu kentara betapa tidak menariknya dirinya. Sudah? Jika sudah, saudara boleh sedikit tertawa sembari membayangkan wajah sang menteri tatkala ramai dipamerkan dalam bentuk stiker wassap. Sudah? Sekarang saudara boleh melanjutkan membaca tulisan ini.

Ya, menteri itu adalah Anies Rasyid Baswedan yang konon diberikan kepercayaan oleh sang presiden untuk menghendel seluruh urusan dan sistem pendidikan nasional kita. Padahal, kala itu nama Anies cukup beken di kalangan akdemisi yang selevel dengannya. Mantan rektor cuy. Bukan kaleng-kaleng.

Akan tetapi sebeken dan sementereng apa nama seorang Anies pada saat itu, tetap saja ia tidak begitu menarik di mata sang Presiden. Buktinya ia dicopot. Jika saudara penasaran dengan sebab pencopotan itu, saya berani bertaruh saudara tidak akan menemukan apa alasan sang Presiden melakukannya. Mau bukti? Silakan saudara bongkar pasang di mesin pencarian gugel. Jika berhasil menemukan hubungi saya segera. Tak kasih bonus sampeyan dengan catatan dan ketentuan berlaku.

Sampai dengan detik ini saya masih berusaha mencari tahu apa penyebab Anies dicopot? Terusterang saja saya menjadi overthinking terhadap tindakan yang diambil Pak Presiden kala itu. Anies loh ini! Anak dari salah satu pejuang kemerdekaan kita. Anies loh ini! Salah satu mantan rektor terbaik yang pernah dimiliki Universitas Paramadina. Lalu apa penyebabnya? Sederhanya, penyebab Anies dicopot bisa jadi ia tak lagi menarik untuk dijadikan pembantu Presiden. Itu saja biar ndak makin panjang pembahasannya.

Beda Anies – Beda Prabowo. Demikian yang selanjutnya hendak ingin saya sampaikan kepada saudara pembaca.

Tatkala Anies mulai menjalani hari-harinya di rumah, menghabiskan waktu bersama dengan sanak kelurganya. Lebih tepatnya ia nganggur dalam urusan-urusan birokrasi, adalah Prabowo yang tertarik kepada mantan menteri hasil reshuffle ini. Pun Prabowo juga yang membawa Anies keluar dari keterpurukan karirnya.

Katakanlah Anies tak mungkin kembali ke lingkungan akademis yang ia geluti puluhan tahun pasca direshuffle. Tapi kemungkinan besar ia bisa masuk kedalam lingkungan baru, itu bisa saja terjadi. Dan peluang itulah yang dilihat oleh Prabowo. Anies ditarik masuk ke dunia politik.

Setahun kemudian ia muncul sebagai kandidat calon gubernur di DKI Jakarta. Gerindra kala itu sebagai Partai yang mendukung penuh pencalonan Anies dan memang tak main-main dukungan itu. Gerindra All out hingga pada putaran kedua. Habis-habisan, mati-matian mendukung Anies agar menang dalam pertarungan itu. Pilkada serasa Pilpres! Dan hasilnya kita semua tahu. Anies keluar sebagai pemenang. Sungguh sebuah pertarungan di gelanggang politik yang alot.

Ya, saya berani menyatakan hal itu sebab Gerindra maupun PDIP yang kala itu mendukung pencalonan Anies dan Ahok mendatangkan seluruh kader partai se-Idonesia ke Ibu Kota untuk terlibat langsung dalam memenangkan kedunya. Ini bukan drama heroik yang sekadar saya tulis. Saudara bisa percaya, bisa juga tidak.

Tapi jika saudara hendak membuktikan apa yang saya sampaikan barusan adalah sebuah kebenaran atau tidak, saudara boleh mewawancarai kader dari kedua partai tersebut. Tanyakan kepada mereka peristiwa politik terbesar apa yang pernah terjadi pada tahun 2017 yang lalu.

Bila perlu tanyakan kepada Anies langsung. Saudara berhak sebab ini adalah politik. Dunia yang bisa saja semua orang akan tersesat selamanya dan tidak menemukan jalan pulangnya. Seperti Anies saat ini. Mungkin.
Ya syukur-syukur ia kembali dan sadar diri. Iya toh?

Kembali pada Prabowo yang tertarik kepada Anies ketika ia tak menarik lagi di mata sang Presiden. Prabowo memang adalah rival politik Jokowi dalam dua kali perhelatan Pilpres. Namun rivalitas itu diyakini hanya sebatas persaingan di gelanggang politik. Toh pada akhirnya, hari ini Prabowo turut serta membantu kerja-kerja Pak Jokowi dalam pemerintahan. Bahkan Prabowo jauh dari nasib Anies yang dicopot baru menjelang dua bulan kabinet itu dikukuhkan.

Yang terbaru bahkan di tengah-tengah seorang Anies yang sibuk memamerkan dirinya sebagai calon presiden mendatang, Prabowo justru tetap tenang dalam bekerja menjalankan tugas kenegeraannya. Kendati semua orang tahu bahwa ia adalah salah satu calon yang kemungkinan besar berpeluang menang dalam perhelatan Pilpres akan datang.

Pada akhirnya saya hendak mengatakan bahawa politik bukan tentang meraih kekuasaan, melainkan adalah tentang etika. Anies adalah orang baik tapi Prabowo adalah orang yang ikhlas. Orang baik belum tentu ia ikhlas sebaliknya orang ikhlas sudah pasti dia baik.

Salam.

Exit mobile version