Bimata

INDEF Ingatkan Pemerintah Harus Waspada Terhadap Penurunan Ekspor

BIMATA.ID, Jakarta- Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad menyatakan pemerintah harus mewaspadai terjadinya perlambatan ekspor dalam neraca perdagangan Indonesia. Sebab, meskipun neraca perdagangan sudah surplus 27 kali berturut-turut, tren secara year on year (yoy) pada Juli 2022 terjadi perlambatan menjadi 32,03% setelah di Juni 2022 tumbuh 40,99%.

Sementara untuk pertumbuhan impor (yoy) relatif tinggi yaitu 39,86% pada Juli 2022. Angka ini meningkat dari posisi Juni 2022 yang sebesar 21,98%

“Mulai terjadi perlambatan ekspor padahal impor mulai meningkat. Saya kira ini menjadi catatan bahwa hati-hati tren impor mulai meningkat. Meskipun pada Juli 2022 masih terjadi surplus,” jelasnya, Senin (15/08/2022).

Dia mengatakan, untuk kedepannya ada potensi terjadi penurunan, saat impor khususnya impor bahan baku mulai menggeliat. Harga komoditas sudah mulai menurun artinya pertumbuhan ekspor relatif melambat.

Ketika harga komoditas mulai menunjukkan penurunan seperti minyak kelapa sawit mulai menurun, windfall akan relatif terbatas, termasuk komoditas lain yang menunjukan gejala penurunan.

“Hati-hati beberapa komoditas sehingga windfall dari sisi ekspor pertumbuhanya menurun sementara impor relatif tinggi. Meskipun neraca perdagangan masih surplus,” pungkasnya.

Demi mempertahankan tren neraca perdagangan berada di posisi surplus, pemerintah harus mencari pasar ekspor dengan perekonomian relatif stabil. Pemerintah juga harus menggalakan substitusi produk bahan baku.

Misalnya dengan hilirisasi, terutama untuk menghasilkan bahan baku penolong yang dibutuhkan industri dalam negeri.

 

(ZBP)

Exit mobile version