Bimata

Mulan Jameela Pertanyakan Progres Pembangunan SGAR yang Lamban

BIMATA.ID, Jakarta – Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi Gerindra Mulan Jameela mempertanyakan perkembangan pembangunan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah, Kalimantan Barat, yang baru mencapai 15 persen.

Ia menilai, progres pembangunan seharusnya sudah mencapai 70 persen dan selesai di tahun 2021.

“Terkait pembangunan smelter grade alumina milik Antam sampai saat ini pembangunannya baru sampai 15 persen apa betul? Detailnya seperti apa,” ujar Mulan dalam Rapat Dengar Pendapat dengan MIND ID, Kamis (2/6) kemarin.

Menurut Mulan, keterlambatan pembangunan smelter ini menyebabkan kerugian pada MIND ID dan lebih jauh lagi bahkan menimbulkan kerugian negara.

Dia mendesak pemerintah melakukan audit lingkungan terhadap PT Vale Indonesia (INCO) ihwal pencemaran lingkungan yang terjadi akibat sedimentasi tanah bekas penambangan.

“Terakhir tahun 2021 ditemukan limbah sulfur yang masuk kategori limbah B3 yang mencemari pesisir Pulau Mori. Melihat ini isunya hilang muncul maka kami mendesak dilakukan audit lingkungan terkait implementasi kebijakan perlindungan lingkungan,” ujar Mulan.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Utama Holding MIND ID Hendi Prio Santoso yang juga mewakili INCO mengungkapkan, pihaknya akan memperhatikan saran dan arahan Mulan Jameela mengenai aspek pengembangan lingkungan yang dilakukan INCO.

“Kami akan perhatikan arahan mengenai aspek pengembangan lingkungan,” ujarnya.

Sementara terkait proyek smelter, Hendi mengakui proyek pembangunan smelter memang sempat mandek selama dua tahun akibat kinerja kontraktor.

Hendi bilang, saat ini proyek tersebut sudah mulai ada pengembangan.

“Kami akan memperhatikan beberapa proyek strategis yang memang terkendala khususnya smelter grade alumina refinery yang sudah disampaikan Bu Mulan. Insyaallah sudah ada komitmen baru dari mereka sehingga pembangunan akan dilanjutkan. Memang sempat tekbengkalai dua tahun,” ujarnya.

Sebelumnya, Direktur Operasi dan Portofolio MIND ID, Danny Praditya mengakui dengan lambatnya proyek tersebut, MIND ID mengalami kerugian karena fixed cost yang harus dikeluarkan tiap bulannya.

Berasarkan target awal pembangunan semestinya smelter ini sudah bisa beroperasi pada tahun 2023 mendatng.

“Selain dari sisi investasi, kita juga alami kerugian karena ada biaya yang dikeluarkan tiap bulannya. Harusnya sekarang sudah selesai di angka 71 persen tapi sekarang delay aktualnya masih 13,7 persen,” kata Danny dalam RDP dengan Komisi VII DPR RI, Senin 21 Maret.

Proyek SGAR dikelola PT Borneo Alumina Indonesia (PT BAI) yang dimiliki PT Inalum (Persero) dengan saham sebesar 60 persen dan ANTAM dengan saham 40 persen.

Sementara itu SGAR ditargetkan bisa memasuki tahapan operasi komersial atau commercial operation date (COD) di tahun 2023. Setelah beroperasi nanti, SGAR diproyeksikan kapasitas produksi sebesar 1 juta ton alumina.

Berdasarkan penuturannya, delay tersebut diakibatkan PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk (PTPP) dan China Aluminum International Engineering Corporation Limited selaku konsorsium Indonesia-China belum menemukan kata sepakat untuk sejumlah masalah.

Exit mobile version