BeritaNasionalPolitik

Elektabilitas Airlangga Stagnan, Akankah Musdalub Golkar Terjadi?

BIMATA.ID, Jakarta – Belakangan ini sempat heboh terkait perombakan yang terjadi oleh Fraksi Golkar di DPR, perombakan tersebut memunculkan dugaan konflik internal yang menajam di partai itu. Pengamat Politik Dedi Kurnia menilai, bukan tidak mungkin rotasi berkaitan dengan isu penundaan pemilu yang sempat diwacanakan Partai Golkar.

Ia menduga, bisa saja orang-orang yang dirotasi adalah mereka yang tidak mau mengikuti konsolidasi partai yang mendukung wacana penundaan pemilu.

“Dimungkinkan rotasi itu berkaitan dari upaya konsolidasi penundaan Pemilu di internal Golkar. Karena, secara fungsi, rotasi di parlemen oleh parpol itu cukup mengkhawatirkan. Bisa terjadi hanya karena faktor politik, bukan faktor kecakapan yang dirotasi,” kata Dedi, Rabu (23/3).

Jika konflik di internal Golkar terus terjadi, ia menilai bukan tidak mungkin akan kembali ada Munaslub Golkar untuk memilih ketum baru, meskipun masa jabatan Airlangga Hartarto belum berakhir.

Dedi mengatakan, ada dua faktor terkait Munaslub bisa terjadi di Golkar. Pertama, banyaknya tokoh di Golkar yang bisa menyaingi Airlangga sebagai ketua umum.

“Di Golkar banyak elit politisi yang punya kapasitas dan menonjol, intelektual politik banyak di Golkar. Sehingga, tidak sulit memunculkan nama yang sepadan atau lebih baik dari Airlangga Hartarto. Sebut saja Bambang Soesatyo, Dolli Kurnia, Dedi Mulyadi, dan lainnya,” ungkapnya.

Alasan kedua, terkait pencapresan Airlangga. Menurut Dedi, elektabilitas Airlangga yang tidak naik-naik alias stagnan bisa merusak elektabilitas Golkar. Jika ini yang terjadi, maka bukan tidak mungkin banyak kader yang mendorong pergantian ketum demi mendongkrak elektabilitas partai.

“Kedua, Airlangga sedang dalam kekalutan karena elektabilitasnya tak kunjung membaik, dan berpotensi merusak elektabilitas Golkar dengan wacana tunda Pemilu,” kata Dedi.

Dari kedua faktor di atas, Dedi menilai, alasan yang paling mungkin menyebabkan Munaslub ada rivalitas Airlangga dan Bamsoet. Tapi, ia juga tak menutup kemungkinan munculnya tokoh baru yang masuk arena persaingan.

“Bukan tidak mungkin jika tiba-tiba ada gelombang baru yang memunculkan nama baru. Sehingga tokoh baru ini menjadi mediator rivalitas Airlangga-Bamsoet. Hal-hal semacam itu masih mungkin terjadi di Golkar karena memang elit Golkar bisa disebut mayoritas politisi ulung,” tutup dia.

 

 

 

Tags

Tulisan terkait

Bimata
Close