BeritaKesehatanPolitik

Edy Rahmayadi Minta Penanganan Covid-19 Tidak Dibawa ke Ranah Politik

BIMATA.ID, Sumut – Gubernur Provinsi Sumatera Utara (Sumut), Edy Rahmayadi meminta, penanganan Covid-19 yang dilakukan pemerintah daerah (Pemda) tidak dibawa-bawa ke ranah politik. Apalagi, dikaitkan dengan pemilihan kepala daerah (Pilkada) Serentak 2024 yang masih terbilang lama.

Hal itu disampaikan Edy saat acara Temu Wicara Gubernur Sumut dengan Tokoh Adat, Tokoh Agama, dan Tokoh Budaya dalam rangka Penyuluhan Tatanan Kehidupan Baru Covid-19, yang digelar di rumah dinas Gubernur, Jalan Sudirman, Kota Medan, Provinsi Sumut, Jumat, 11 Februari 2022.

“Ini bukan cerita politik, ini cerita serius. Saya tidak perlu populer, jangan disampaikan dengan ini (dibawa ke ranah politik). Mengapa tidak seiya sekata dalam menghadapi real (Covid-19) nyata ini,” tuturnya.

Berdasarkan data Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumut pada tanggal 10 Februari 2022, kasus aktif Covid-19 berjumlah 637 kasus baru. Sedangkan, dengan varian Omicron dari tanggal 24 Januari hingga 10 Februari 2022 dengan jumlah kasus probable 656 dan positif 28 kasus.

Apabila angka kasus aktif Covid-19 varian Omicron terus meningkat, maka mantan Pangkostrad ini berencana bakal kembali menghentikan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) menjadi daring 100 persen.

“Kalau ini meningkat akan saya tutup kembali sekolah ini. Pasti saya tidak populer, lebih baik saya tidak populer, daripada anak-anak saya sakit semua,” pungkas Edy.

Oleh karenanya, Edy mengajak tokoh-tokoh agama, tokoh-tokoh pemuda, tokoh-tokoh adat untuk dapat bekerja sama dengan Pemprov Sumut dalam menekan penyebaran Covid-19 dan menyadarkan masyarakat tentang vaksin.

“Ini tidak ada kepentingan pribadi, tidak ada kepentingan kelompok. Tidak ada urusan pribadi, yang ada urusan Sumatera Utara,” tukas mantan Ketua Umum PSSI ini.

Edy mengemukakan, dalam penanganan virus korona tidak ada berpikiran untuk membawa ke ranah politik.

“Saya tidak punya partai, punya saya partai Sumatera Utara,” imbuhnya.

Mantan Pangdam I Bukit Barisan ini juga menyampaikan, tidak bisa berkata lembut. Namun, bahasa kasar berbanding terbalik dengan hatinya yang lembut.

“Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Saya tidak bisa berkata-kata yang baik, berkata lah dengan lembut. Saya tidak bisa, karena ini sudah paling lembut. Yakinlah, kata-kata saya ini tak sekasar hati saya,” ucap Edy.

[MBN]
Facebook Comments
Tags

Tulisan terkait

Bimata
Close