Bimata

Kelola Sampah Jadi Emas, Legislator Gerindra Jabar Fokus Fasilitasi Kades Melalui Budidaya Maggot

BIMATA.ID, KUNINGAN – Banyaknya keluhan Kepala Desa di Kabupaten Kuningan terkait dengan permasalahan sampah dan menumpuknya sampah di lingkungan Desanya, menjadi perhatian serius Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Tina Wiryawati untuk memfasilitasi pelatihan pengelolaan sampah menjadi emas. 

Tina menceritakan, bukan tidak ada upaya penanganan, mereka mengaku sampah dari rumah-rumah warga ini ternyata tidak ada habisnya, bahkan semakin menggunung. 

“Pembuatan tempat pembuangan sampah sementara, hingga upaya pengambilan sampah oleh kendaraan operasional Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kuningan sudah dilakukan,” ujar Tina dalam keterangan tertulis, Selasa (11/1/2021).

Namun, kata Politisinya Gerindra, hal itu tetap tidak memberikan solusi tuntas, karena sampah tetap menggunung dan menimbulkan masalah baru, seperti tersumbatnya saluran air dan bau busuk yang bisa menimbulkan penyakit. 

Hingga akhirnya, Tina menerangkan, puluhan kepala desa di Kabupaten Kuningan tertarik pada sebuah solusi tepat dalam menangani masalah sampah, yakni budidaya maggot.

“Diawali dengan kesuksesan Desa Kertayasa, Kecamatan Sindangagung dalam menangani sampah melalui budidaya maggot, puluhan kades di Kuningan ini kini serius untuk bisa belajar budidaya maggot,” terangnya. 

Bahkan belum lama, tercatat ada 24 kepala desa di Kecamatan Ciawigebang mengikuti pelatihan budidaya maggot. Usai itu, Tina kembali mengadakan pelatihan serupa di Desa Kertayasa, Kecamatan Sindangagung, Kuningan.

Saat pelatihan berlangsung, Tina sempat memperagakan dengan menunjukan beberapa media yang diperlukan dalam budidaya maggot. Tak hanya itu saja, politisi Gerindra ini juga tak merasa jijik saat langsung melihat proses budidaya maggot.

“Kita berharap melalui budidaya maggot ini, menjadi salah satu solusi dalam mengatasi persoalan sampah. Namun BUMDes juga perlu diikutsertakan, karena BUMDes adalah lembaga yang diharapkan bisa membantu dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat,” kata Tina Wiryawati. 

Menurutnya, sampah organik yang diolah bisa menghasilkan maggot dengan nilai jual cukup menjanjikan. Bahkan sampah bekas maggot akibat tidak habis terurai, bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk pertanian.

“Jadi maggotnya bisa dijual dan menghasilkan cuan, lalu sisa-sisa sampah dari bekas maggot ini dapat menjadi pupuk kompos. Sehingga jelas menguntungkan, selain mengatasi persoalan sampah, kemudian sampah yang diolah menjadi maggot ini bisa menghasilkan pendapatan bagi masyarakat,” tandasnya. 

Sementara, Arif sebagai narasumber yang juga menjabat Kepala Desa Kertayasa menekankan untuk sukses menangani sampah di lingkungan masyarakat, intinya adalah bisa merubah pola pikir masyarakat, dari melihat sampah yang kotor menjadi sampah sebagai sumber ekonomi mereka. 

“Di Desa kami saat ini warga berebut sampah. Karena dalam pandangan mereka sampah-sampah ini adalah uang. Sampah organik bisa jadi pakan maggot, dan sampah anorganik bisa dijual di bank sampah, bahkan bisa jadi emas batangan,” papar Arif di sela penjelasannya terkait langkah-langkah budidaya maggot sampai berhasil. 

Menurutnya, perubahan pola pikir masyarakat ini memang tidak bisa instan. Hal ini memerlukan upaya untuk menunjukkan bahwa memang sampah itu bisa jadi sumber penghasilan keluarga. 

“Hingga dari yang semula melihat sampah itu kotor dan jijik, kini malah jadi benda yang berharga,” tuturnya. 

Ia pun menjelaskan salah satu yang bisa merubah tumpukan sampah (organik) bisa jadi uang adalah dengan budidaya maggot. Maggot Black Sodier Fly (Tentara Lalat Hitam) adalah hewan berbentuk belatung (larva) yang dikembangbiakkan dari lalat hitam (BSF) yang sekarang banyak dicari karena mengandung protein baik untuk pakan ternak. 

“Cara budidaya maggot pun mudah sekali, dan maggot ini mulai telur, larva, pre-pupa,  lupa hingga lalat dewasa sangat mahal harganya. Bahkan bekas maggot yang berbentuk tanah pun sangat baik digunakan untuk media tanam pertanian,” katanya. 

Ia pun menjelaskan tahapan tata cara budidaya maggot mulai persiapan pakan hingga panen. 

Sementara, narasumber lain, Sulistio IPAC, menambahkan, pakan maggot ini adalah semua jenis sampah organik. Maggot biasanya menghisap makanan dari sampah yang telah dicacah dan terurai seperti bubur. 

“Untuk membantu mempercepat penguraian pakan maggot ini bisa disemprot cairan tertentu yang mengandung EM4,” ujar Tio. 

Budidaya maggot, selain bisa membantu pengurangan tumpukan sampah sehingga membantu perbaikan lingkungan, juga menambah penghasilan. 

“Selain sampah organik, sampah anorganik pun jelas bernilai ekonomi. Bisa dijadikan daur ulang untuk berbagai macam bentuk kebutuhan,” katanya lagi. 

Terpisah, Kades Karangkamulyan, Yayat Supriyatna mengaku sangat terbantu dengan adanya pelatihan budidaya maggot ini. Pihaknya bersama jajaran kepala desa di Kecamatan Ciawigebang mengaku akan mengaplikasikan apa yang didapatkan dari pelatihan ini untuk menangani masalah sampah di desa mereka. 

Pelatihan budidaya maggot ini dilanjutkan dalam sesi melihat lebih dekat di tempat budidaya maggot di Desa Kertayasa pada Minggu (09/01). 

Secara lebih detail, Kades Kertayasa kembali menjelaskan teknik budidaya maggot dari awal hingga akhir. 

Para peserta pun diajak langsung melihat area pertanian dimana diaplikasikan pupuk dari kasgot (bekas maggot). Juga melihat saung tempat berlangsungnya budidaya maggot dan kolam tempat maggot ini jadi pakan ikan.

OON II USMAN

Exit mobile version