EnergiBeritaEkonomiInternasionalNasional

Konsultan Pertambangan: Harga Nikel Dunia Bergantung Pada Indonesia

BIMATA.ID, Jakarta- Konsultan Independen Industri Pertambangan, Steven Brown mengatakan, tren kenaikan harga nikel di pasar internasional akan bergantung pada Indonesia. Pasalnya, fluktuasi harga akan bergantung pada suplai dan permintaan. Adapun pasokan nikel dunia kini mengandalkan pasokan dari Indonesia.

“Ada banyak forecast terkait harga, saya rasa nggak akan naik terlalu jauh dari saat ini karena masih bergantung supply dan demand. Yang jelas demand pasti akan meningkat jauh karena ada mobil listrik dan sebagainya, tapi tampaknya suplai juga seimbang kalau dilihat terutama dari perkembangan di Indonesia. Supply bisa keep up dengan demand. Tapi itu semua tergantung dari Indonesia,” jelasnya.

“Jadi di luar Indonesia sama sekali gak keep up dengan demand. Jadi ini semua sangat bergantung pada satu negara (Indonesia),” sambungnya.

Saat ini pasokan nikel hanya bertumbuh di Indonesia, termasuk untuk produk Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), yakni meningkat 320 ribu ton atau naik 140% secara tahunan (year on year) dibandingkan periode yang sama 2020. Jumlah tersebut belum termasuk dari produksi nikel PT Vale Indonesia.

Sementara di luar Indonesia secara global, pasokan nikel justru menurun 265 ribu ton atau turun 26% dibandingkan periode semester I 2020. Ini menunjukkan pasokan nikel dunia hanya meningkat dari Indonesia, sehingga tak ayal bila pasokan nikel dunia bergantung pada Indonesia.

“Luar biasa memang. Total produksi nikel meningkat hanya karena Indonesia,” ujarnya.

Lantas, apakah benar harga nikel termasuk ke dalam era super siklus?

Menurutnya, hal ini masih diperdebatkan banyak pihak, karena ada yang menganggap ini akan masuk era super siklus, tapi ada juga yang mengatakan masih jauh dari super siklus. Pasalnya, harga nikel dunia tertinggi sempat menyentuh US$ 50 ribu per ton, sementara kini baru sekitar awal US$ 20 ribu per ton.

Super siklus nikel sebelumnya dipicu karena perkembangan industri di China, namun kini lebih didorong pada transisi energi ke energi baru terbarukan, seperti peningkatan penggunaan kendaraan listrik, pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan. Transisi energi ini akan memakan banyak nikel, sehingga permintaan nikel ke depan pasti akan terus meningkat.

So far supply nikel masih bisa seimbang dengan permintaan walaupun ke depannya ada dua kelompok, ada yang merasa demand melebihi suplai di masa mendatang, ada yang lain yang merasa supply dan demand tetap seimbang, jadi masih debatable apakah sudah mau supercycle atau tidak,” tuturnya.

Menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) 2020, Indonesia disebut memiliki cadangan nikel sebesar 72 juta ton Ni (nikel). Jumlah ini merupakan 52% dari total cadangan nikel dunia yang mencapai 139.419.000 ton Ni.

 

(ZBP)

Facebook Comments
Tags

Tulisan terkait

Bimata
Close