OpiniOpini

HMI MPO dan Kritik Materialistisnya Yang Menyesatkan Pembaca

Penulis: Ti Kama, Pemerhati Kritik Sosial Kalangan Elit Organisasi Eksternal

BIMATA.ID, OPINI — Saya masih bingung bagaiaman cara membuka tulisan yang baik dan mudah diterima oleh logika berpikir orang-orang jaman sekarang. Termasuk jika saya harus memberikan pemahaman kepada Ketua HMI MPO, saudara Affandi Ismail, dan Ketua Komisi Pertahanan dan Keamanan Nasional PB HMI MPO, Abubakar, terkait kritik yang dilayangkan kepada Menhan Prabowo pasca tenggelamnya KRI Nanggala – 402, yang mengakibatkan tewasnya 53 prajurit laut terbaik.

Semua orang tentu berbelasungkawa atas kejadian itu. Namun tidak demikian bagi HMI MPO. Mereka justru memanfaatkan situasi berduka untuk merebut panggung kritik lewat media daring.

Mengutip catatan Rizal Mallarangeng: “Brangkali, di era Twitterland dan Republik Facebook, di mana atensi manusia itu sendiri menjadi jauh lebih pendek dengan fokus yang tak terhingga.” Dan disinilah saya kira HMI MPO memosisikan diri sebagai manusia itu sendiri; atensi yang pendek dengan fokus yang tak terhingga.

Soal kritik, saya kira sah-sah saja dan wajar saja jika itu dilontarkan kepada pemangku kebijkan di negara ini. Termasuk kepada jajaran menteri era periode ke dua Presiden Joko Widodo. Dan HMI MPO berhasil memanfaatkan situasi berduka yang sedang melanda Indonesia saat ini dengan atensi serba terbatas yang dimilikinya.

Ada hal yang luput kemudian dilupakan oleh Affandi dan kawan-kawannya, bahwasanya urusan negara lebih-lebih soal pertahanan nasional tidak melulu difokuskan pada besaran anggran yang diterima oleh Kementerian Pertahanan lantas sesegera mungkin harus digelontorkan untuk peremajaan alutsista. Tidak begitu sistem pengelolaan anggrannya, Mas Affandi.

Dalam aturan Perrundang-undangan Republik Indonesia, Nomor 3 Tahun 2002 Tentang Pertahanan Negara, pada Bab 1 (Ketentuan Umum) yang dituangkan dalam Pasal 1, Ayat 4, bahwa Pengelolaan Pertahanan negara adalah segala kegiatan pada tingkat strategis dan kebijakan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan pengendalian pertahanan negara.

Sampai di sini, saya kira saudara-saudara HMI MPO tidak membatasi perhatiannya hanya sampai pada besaran jumlah anggran yang diterima oleh Kementerian Pertahanan mencapai triliunan rupiah itu untuk melancarkan aksi krtikan daring. Anggran itu akan dikelola dan tidak mungkin hanya terfokus pada satu program saja, semisal peremajaan seluruh alutsista yang dimiliki oleh Tentara Nasional Indonesia. Lagi-lagi tidak seperti itu, Mas Affandi.

Toh untuk mengurusi pertahan negara tidak semudah mengurusi organisasi yang sedang di nahkodai oleh saudara kendatipun telah dilabeli “Majelis Penyelamat Organisasi”. Karena bagaiamana pun usaha untuk mempertahankan keamanan negara harus berdasar pada prisipnya; demokrasi.

Sangatlah tidak mungkin jika kita harus memfokuskan sebagian besar anggaran yang ada hanya untuk urusan alutsista modern sementara di pelosok negeri ini masih banyak ancaman dari pihak luar pada kelangsungan hidup masyrakat Indonesia.

Namun, saya tidak hendak mengatakan bahwa kritik HMI MPO itu keliru dan tidak ada gunanya sama sekali. Tapi alangkah baiknya sebagai generasi muda untuk lebih memperkaya data, memperkaya informasi agar pencapaian kritik itu sendiri menjadi sebuah hal yang membangun dan mendapat nilai edukasi bagi masyrakat.

Saya kira cara pandang suadara-saudara dalam melakukan kritik perlu diluruskan. Karena bagaimanapun, kritik yang dilayangkan oleh saudara-sudara cenderung bersifat materialistis semata dan menyesatkan informasi, pun menyesatkan pengetahuan para pembaca terkait penggunaan anggran di negara ini.

Lantas dari sanalah pandangan awam saya muncul. Saya curiga Affandi dan rekan-rekannya, barangkali sedang berafiliasi pada kelompok tertentu yang masih berat menerima kenyataan bahwa hari ini, sosok Prabowo Subianto salah satu menteri yang memiliki kinerja terbaik di era kabinet Presiden Jokowidodo pada periode keduanya.

Sebelum saya tutup, perlu diingat, baik itu Affandi ataupun Abubakar bukanlah seorang pakar kritikus. Mereka hanyalah dua dari sekian banyak kader HMI MPO yang sedang beruntung menjabat pada posisi strategis di internal organisasinya. Sebagai bukti, detik.com mencatat “Ketua Umum PB HMI MPO, Affandi Ismail, menyampaikan pernyataan sikap organisasinya”.

Sekian.

Facebook Comments
Tags

Tulisan terkait

Bimata
Close