Bimata

Teror Bom di Makassar, Ini Reaksi Ketua Hukum dan HAM Pemuda Muhammadiyah Sulawesi Selatan 

BIMATA.ID, Aceh — Ketua Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) Pimpinan Wilayah (PW) Pemuda Muhammadiyah (PW) Sulawesi Selatan Ridwan Fawallang memiliki pandangan tersendiri terkait ledakan bom bunuh diri yang terjadi di gerbang masuk halaman sebuah Gereja Katedral di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (28/3/2021).

Menurutnya ada banyak penyebab terjadinya peristiwa teror, baik berupa faktor ekonomi, politik dan demografi. 

Persoalan ini kata alumni UIN Alauddin Makassar ini menjadi mengemuka seiring dengan kepentingan setiap pihak tidak bertemu bahkan harapan bertepuk sebelah tangan yang mengakibatkan salah satu pihak mencari pilihan lain tanpa memikirkan resiko kerugian yang diterima oleh dirinya dan orang lain.

“Setidaknya ada dua faktor yang saya kemukakan yang faktor itu dinilai cukup signifikan berpengaruh terhadap munculnya aksi teroris pada suatu daerah, faktor politik dan ekonomi. Pada aspek lain, terdapat kepentingan politik pihak tertentu untuk memanfaatkan kondisi dalam memperoleh kekuasaan,“ paparnya.

Sejauh dia menilai dinamika politik di Kota Makassar dan Sulawesi Selatan menunjukkan dinamika dalam kenormalan saja. Pada aspek lain, keadaan Pandemi Covid-19 dianggap berpengaruh terhadap kondisi perekonomian masyarakat, maka setiap orang yang mengalaminya mendorong untuk memikirkan bagaimana memperoleh dan memenuhi kebutuhan hidup dan keuntungan bisnis. 

“Dua faktor itu, boleh jadi bersamaan bergerak dalam mengefektifkan biaya untuk mendapatkan hasil, sebab kekuasaan politik teroris untuk mendapatkan keuangan dan sebaliknya gerakan teroris membutuhkan biaya keuangan tidak sedikit,’lanjut mantan Ketua IMM Sulawesi Selatan ini.

Berdasarkan penelitian Tim Krieger-Daniel Meierrieks lanjutnya (What Causes Terrorism?), bahwa pertama Transformasi politik dan ketidakstabilan juga disebut sebagai penyebab terorisme, khususnya dalam wacana populer. Gagasan utamanya adalah bahwa perubahan politik dapat menciptakan kekosongan politik yang digunakan kelompok teroris untuk mendorong agenda mereka. 

“Penyedot debu seperti itu menarik sama seperti radikal kelompok lebih kecil kemungkinannya untuk ditantang oleh pemerintah yang tidak stabil, sehingga lemah (misalnya, terukur oleh variabel stabilitas rezim), menjadikan terorisme sebagai usaha yang lebih murah,” urainya

Kedua terorisme digunakan oleh kelompok inferior tidak hanya sebagai alat untuk menyuarakan pandangan dunia mereka tetapi juga untuk mengubah hasil (material) yang menguntungkan mereka. 

Ridwan mengurai pandangan Daniel Meierrieks bahwa Identitas (dan oposisi terhadap identitas lain) berfungsi sebagai fasilitasi ikatan, misalnya, perekrutan teroris dan dukungan keuangan. Ketika teroris berhasil, imbalan terkait sangat tinggi karena penegakan klaim absolut. 

“Maka mengantisipasi aksi teroris dalam bentuk aksi Bom dan bentuk lainnya yang sampai saat masih perlu dievaluasi, faktor yang mana yang dominan mendorong aksi teror. Mengajak masyarakat untuk proaktif mengamati dan mengawasi pergerakan teroris yang dekat dengan aktivitas masyarakat, bisa saja mereka ngopi sore bersama masyarakat. Pada aspek pengamatan dan tindakan pihak Intelijen dan pihak kepolisian agar kejadian tidak terulang di Kota Makassar maupun pada kota lain di Indonesia,” tutupnya

Usman

Exit mobile version