OpiniHeadline

Pengamat: Rasis Sebagai Alat Pembungkam Lawan Politik?

BIMATA.ID, Jakarta – Direktur Eksekutif Nurjaman Center Indonesia Demokrasi (NCID), Jajat Nurjaman mengatakan, tidak seharusnya anggota partai politik (Parpol) yang dianggap sebagai tokoh dalam suatu golongan menyampaikan pernyataan yang mengandung unsur rasisme.

Saat kondisi yang serba sulit karena pandemi Covid-19, mucul sebuah cuitan yang membuat heboh jagat maya dunia politik Indonesia. Cuitan ini berasal dari Ketua Relawan Pro Jokowi Amin (Projamin), Ambroncius Nababan, yang mengunggah status dalam akun Facebook milik pribadi dengan tulisan, yaitu:

“Mohon maaf yg sebesar-besarnya. Vaksin sinovac itu dibuat utk MANUSIA bukan utk GORILLA apalagi KADAL GURUN. Karena menurut UU Gorilla dan kadal gurun tidak perlu di Vaksin. Faham?”.

Dalam unggahan tersebut, sang pemilik akun menyertakan link pemberitaan yang berjudul ‘Pigai: Sesuai UU, Rakyat Berhak Menolak Divaksin’.

Jajat pun menyayangkan adanya tulisan tersebut. Pasalnya, Ambroncius sebagai Ketua Relawan Projamin seharusnya merangkul seluruh golongan yang ada di Indonesia. Perbedaan pendapat merupakan suatu yang biasa terjadi dalam politik Indonesia.

Namun, apakah harus membawa isu rasisme dalam menjalankan upaya membungkam pihak yang kurang sepaham dengan kebijakan yang di keluarkan Pemerintah? Apalagi mengingat bangsa Indonesia menggenggam asas Bhineka Tunggal Ika.

Selayaknya pemimpin, semestinya Ambroncius dapat bersikap diplomatis dan mencerminkan kedewasaan dalam melakukan segala sesuatu, apalagi yang sifatnya diposting di media sosial (Medsos). Karena, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila telah menyerukan bangsa Indonesia untuk menegakkan keadilan dan persatuan. Bahkan, Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) menjunjung tinggi nilai-nilai tersebut.

Facebook Comments
Tags

Tulisan terkait

Bimata
Close