PertanianBeritaEkonomiRegional

Tidak Adanya Sarana Penyebrangan, Petani Arungi Sungai Angkut Hasil Panen

BIMATA.ID, ACEH- Petani di Gampong U Gadeng, Kecamatan Keumala, Pidie harus mengarungi derasnya aliran Krueng Keumala saat mengangkut hasil panen. Komoditi bawang harus diangkut petani melewati sungai akibat tidak adanya sarana penyebarangan.

Bawang merah hasil panen yang dimasukkan di dalam karung diletakkan di atas kepala. Kaki para petani ekstra hati-hati melangkah saat melintasi sungai. Di beberapa titik air sungai itu setinggi pinggang orang dewasa. Tapi, semangat petani pedalaman Keumala tidak menghiraukan maut saat mengarunginya.

Keuchik U Gadeng, Nasir mengatakan, petani harus susah payah mengangkut hasil panen bawang merah dengan mengarungi derasnya air sungai akibat curah hujan tinggi. Panen bawang merah yang ditanan petani di lereng bukit di kawasan Blang Puuk Pante Kramat dengan luas areal 2 hektare. Petani menginginkan adanya sarana penyebrangan untuk memudahkan mereka mengangkut hasil panen.

Kelelahan petani terbayar setelah pemberi modal bersedia membeli bawang hasil panen petani. Sehingga, petani tidak memikirkan lagi untuk menjual hasil panen bawang merah. Sebab, petani sering susah saat hasil panen bawah dibeli dengan harga murah.

” Petani bisa tersenyum, ternyata pihak yang sudah membantu bersedia menampung hasil panen bawang merah. Alhamdulillah, hasil panen bawang merah sangat bagus, meski dipanen di tengah musim penghujan,” jelasnya.

Koordinator kelompok tani Chicoba, M Jamil menuturkan, petani dalam bercocok tanam bawang merah harus dibimbing hingga panen. Sebab, tanpa dibimbing petani tidak akan memperoleh hasil panen yang sempurna.

Lebih lagi, kata M Jamil yang juga berprofesi sebagai petani, menanam bawah dalam cuaca ekstrem dan sering hujan. Tanaman bawang harus disemprot setelah diguyur hujan. Sebab, air hujan yang asin bisa merubah unsur tanah menjadi asam. Sehingga, saat tanah menjadi asam, unsur hara yang dikandung tanah hilang yang mempengaruhi kesuburan tanaman.

Menurutnya, bercocok tanam bawang merah lebih menguntungkan bagi petani. Seperti hasil panen bawah di Keumala petani dalam 1 kg bawang mampu menghasilkan 12 kg, meski musim penghujan. Bibit bawang 400 kg mampu menghasilkan 4.800 ton bawang. Pupuk yang digunakan alami seperti pupuk hasil racikan Bupati Pidie, Roni Ahmad atau Abusyik.

Petani bawang di Keumala didampingi mulai dari pengolahan tanah, tanam bawang hingga hasil panen ditampung. Artinya, petani tidak memikirkan lagi untuk memasarkan bawang. Apalagi, menjual barang di pasar sering harga dipermainkan.

Wakil Ketua Umum Kadin Aceh Bidang Industri, Ir Zakaria A Gani menyebutkan, menggalakkan petani di Keumala untuk menanam bawang agar warga tidak lagi menebang kayu di hutan. Artinya, menyelesaikan masalah tanpa masalah. Pedampingan diberikan kepada petani dari pengelohan tanah secara teknologi, memberikan bibit, membantu pupuk dan menampung hasil panen. Hasil panen yang dibeli sesuai dengan harga di pasar. Petani tidak boleh rugi dan senang dengan dilakukan pendampingan.

” Itu pun kalau petani mau menjualnya. Tapi, untuk petani di Keumala bersedia menjual. Kita harus peduli petani di pedalaman dengan memfungsikan lahan produktif sehingga petani semangat bercocok tanam,” jelasnya.

Menurutnya, Pidie merupakan lahan yang yang cocok untuk tanam bawah. Untuk itu, dari hulu sampai hilir harus menanam bawang. Target 2021 pihaknya akan menanam bawang 1.000 hektare di Aceh, dan Pidie menjadi prioritas.

 

(Bagus)

Facebook Comments
Tags

Tulisan terkait

Bimata
Close