Bimata

Proyek Open Access Jadi Kedaulatan Energi di Indonesia Timur

BIMATA.ID, JAKARTA- PT Pertamina RU VII Kasim, Sorong, meresmikan pembangunan open access atau proyek bahan baku crude oil guna ketahanan energi di wilayah timur Indonesia. Inisiasi proyek pembangunan Open Access di RU VII Kasim berawal dari semangat untuk berkontribusi aktif dalam membangun energi negeri.

General Manager RU VII Kasim Yulianto Triwibowo mengatakan Direktur Operasi PT Kilang Pertamina Internasional Djoko Priyono selaku project owner secara simbolis telah meresmikan Proyek Open Access dalam acara kick off meeting secara daring.

Kondisi demografi Kasim di Provinsi Papua Barat menjadi salah satu kunci penting dalam memainkan peranan dalam ketahanan dan kedaulatan energi pada titik paling timur Indonesia. Hal ini menjadi salah satu keunggulan bagi RU VII Kasim, untuk tetap melakukan inovasi di setiap aspek bisnis yang ada.

Ia menyampaikan berangkat dari beberapa faktor di atas, adanya tren penurunan crude serta upaya RU VII untuk menghilangkan ketergantungan pada crude oil tertentu, maka RU VII berupaya mencari alternatif sumber crude lain yang lebih murah dengan spesifikasi yang sama maupun yang lebih baik untuk meningkatkan profit margin.

Kondisi itu seiring dengan transisi RU VII menjadi subholding serta memperkuat ketahanan stok energi dengan jumlah yang mendukung pemerataan BBM di seluruh wilayah Indonesia. “Guna mendukung percepatan pembangunan di tanah Papua,” katanya.

Sebagai langkah awal, kata dia, strategis pengembangan RU VII Kasim adalah Proyek Open Access meliputi pembangunan jetty baru untuk mengakomodir loading kapal dengan tonase hingga 50 ribu DWT (deadweight tonnage), sehingga diharapkan dengan volume yang lebih besar akan berdampak pada freight cost bahan baku per barel yang semakin dapat ditekan.

Selanjutnya crude yang akan dialirkan dari jetty baru tersebut, ditampung pada empat tangki yang akan dibangun dengan kapasitas masing-masing 110 ribu barel sehingga diharapkan RU VII memiliki ketahanan stok selama 44 hari.

“Proyek Open Access ini diharapkan dapat mengawal peningkatan pemenuhan BBM di kawasan 3T yaitu Terdepan, Tertinggal, dan Terluar,” pungkas Yulianto Triwibowo.

 

(Bagus)

Exit mobile version