Opini

Suara Anak NU

Malik Penulis adalah Alumni PC IPNU Kab Nganjuk.
Sekarang mendampingi Rekan dan Rekanita Sebagai Ketua Majlis Alumni Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi IPNU IPPNU IAI Pangeran Diponegoro Nganjuk.

BIMATA.ID, OPINI — Sebelum saya menulis kan opini ini, saya memohon keridhoan kepada Kyai Ngatawi Al-Zastrow karena sebagian besar tulisan ini berasal dari pemikiran beliau tentang keresahan akan organisasi mulia karunia Allah SWT yang didirikan oleh manusia-manusia agung di zamannya, keresahan beliau tentang pewujudan nilai-nilai dan norma yang diajarkan dalam tradisi NU, nilai keikhlasan dan menghormati para ulama. 

Nilai dan tradisi yang tertanam kuat dalam tata kehidupan masyarakat NU. Tradisi yang mulai tergerus dan seakan dilupakan ini adalah sikap tawadhu’. Dahulu, hampir sulit mencari kandidat yang terus terang mencalonkan diri menjadi pemimpin NU, karena para elit NU sadar kepemimpinan adalah amanah yang harus diterima jika diberikan, tetapi tidak diperebutkan.

Dalam konteks alam demokrasi liberal yang mengedepankan kompetisi bebas dan terbuka, sikap ini memang terlihat naif, namun jika dilihat dari perspektif etik dan moral, sikap tersebut justru terlihat indah dan elegan.seperti prinsip “al mukhafadhatu ‘ala khadimis shalih wal akhdhu bil jadiidil ashlah” (memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik).

Munculnya era reformasi yang menjebol sekat-sekat tradisi, sebenarnya merupakan momentum yang baik bagi kalangan NU untuk menguji kekayaan khazanah tradisi yang dimiliki, karena dengan masuknya berbagai tradisi dan nilai baru, komunitas NU memiliki pembanding untuk menentukan mana yang baik dan mana yang lebih baik.

Namun hal ini tampaknya tidak dilakukan komunitas yang mengatasnamakan dirinya sebagai orang orang NU, yang terjadi justru pemberangusan nilai dan tradisi lama dengan tanpa melakukan uji sahih terhadap tradisi dan nilai baru secara kritis dengan mewirangkan keputusan musyawarah Kyai dan sesepuh NU. Sikap seperti ini pada ujungnya melahirkan defisit tradisi, karena khazanah tradisi dan nilai-nilai NU larut dan tergerus oleh tradisi baru yang belum tentu sesuai dengan nilai-nilai keislaman NU. 

Jika hal ini terus terjadi, maka tidak lama lagi NU akan mengalami kebangkrutan tradisi. ada baiknya para kader NU mulai berpikir ulang kembali menjaga dan mempertahankan berbagai tradisi dan nilai-nilai yang baik yang telah diwariskan  dari para sesepuh NU dengan demikian rumah besar yang bernama Nahdlatul Ulama benar-benar bisa menjadi ajang silaturahmi antar warga NU untuk bersama-sama memikirkan kemajuan dan kemaslahatan NU di masa mendatang, memupuk persaudaraan dan kebersamaan yang bisa memperkokoh sendi organisasi.

Berbanding terbalik dengan cita-cita luhur tersebut saya berharap agar tahun politik pilkada ini segera berlalu, sebagai kader NU, hati saya miris melihat banyaknya kedzholiman yang dilakukan oleh orang orang yang mengaku dirinya kader, warga, atau bahkan merasa dirinya tokoh NU.

Beberapa waktu lalu saya menemukan berita https://www.tagar.id/jaringan-kiai-tahlil-sleman-dukung-kustini-danang  dari hati yang paling dalam, sakit hati saya jika para sesepuh NU di wirangkan seperti itu, benar-benar saya ingin bertanya sejauh mana pengkaderan yang beliau ikuti, se-alim apa beliau dan sewirai apa beliau sampai berbuat demikian, ingin rasanya bertanya dimana sikap Sami’na Wa Atho’na beliau, dimana sikap tawadhu beliau, saya fikir mereka perlu memahami lagi apa itu NU dan bagaimana bersikap layaknya sebagai orang NU.

Saya benar-benar yakin bahwa para kyai sesepuh dan ulama NU dalam mengambil keputusan selalu meminta petunjuk kepada Allah SWT sebagai mana yang diteladankan oleh kanjeng Nabi Muhammad SAW dan alim Ulama NU terdahulu. 

Menurut saya, sangat picik pikiran-pikiran mereka jika menghilangkan khusnudhon kepada para kyai dan sesepuh NU, sedikitpun saya belum pernah melihat dan mendengar ada santri berani kepada kyainya, wong “ketrunyuk” saja sudah tidak berani melihat, ini malah yang katanya orang NU yang juga seorang santri terang-terangan mewirangkan para Kyai dan sesepuh NU sungguh sangat menjijikkan buat saya.

Sebagai kader NU mestinya mereka memahami ikhtilafi ummati rohmatan, oleh karena itu Kanjeng Nabi memerintahkan untuk bermusyawarah dan menghormati hasil musyawarah tersebut  bukannya malah gembar-gembor menyalahkan hasilnya, apa mereka pikir kyai dan para sesepuh tidak memikirkan kemaslahatan umat dan NU? 

Terakhir dalam tulisan ini, saya mengajak siapapun sebagai sesama kader NU untuk tetap tawadhu menghormati dan menjalankan apa yang sudah diputuskan oleh para kyai NU. Tantangan sebuah rumah besar seperti NU adalah persatuan dan saya sangat berharap bagi siapapun yang membaca tulisan ini untuk bersatu tawadhu dan taat kepada para kyai.

Sebagai pengingat, Gus Dur saja akan siap terjun ke api jika kyai yang memerintahkan apalagi kita yang masih banyak khilafnya, karena seperti yang kita ketahui bersama para kyai dan sesepuh kita di NU lah yang nantinya akan kita gandoli sarungnya untuk keselamatan di akhirat nanti.

Terima Kasih.

Facebook Comments

Tulisan terkait

Bimata
Close