PertanianBeritaEkonomiRegional

Poktan Ini Bisa Panen 21 Ton Cabai Merah Per Hektare

BIMATA.ID, MEDAN– Kelompok Juli Tani berhasil menaikkan produksi cabai merah selama tiga tahun terakhir. Produksi klaster cabai merah kelompok tani yang ada di Dusun Jogja Desa Sidodadi Ramunia Kecamatan Beringin Kebupaten Deliserdang ini meningkat dari 10 ton per hektare menjadi 21 ton per hektare.

“Pada 31 Mei 2017 kami kenal Bank Indonesia Sumut dan dijadikan klaster cabai merah oleh BI. Sejak itu terjadi peningkatan produksinya. Dulu kita pikir panen 10 ton per hektare sudah hebat, pada 2020 panen bisa mencapai 21 ton per hektare,” kata Ketua Kelompok Tani Juli Tani Yareli.

Kelompok Juli Tani berhasil menaikkan produksi cabai merah selama tiga tahun terakhir. Produksi klaster cabai merah kelompok tani yang ada di Dusun Jogja Desa Sidodadi Ramunia Kecamatan Beringin Kebupaten Deliserdang ini meningkat dari 10 ton per hektare menjadi 21 ton per hektare.

“Pada 31 Mei 2017 kami kenal Bank Indonesia Sumut dan dijadikan klaster cabai merah oleh BI. Sejak itu terjadi peningkatan produksinya. Dulu kita pikir panen 10 ton per hektare sudah hebat, pada 2020 panen bisa mencapai 21 ton per hektare,” kata Ketua Kelompok Tani Juli Tani Yareli.

“Dulunya ada yang tanam pada Januari dengan harapan panen saat Lebaran, ada yang Februari jadi organisme pengganggu tanaman (OPT) tinggal pindah karena tidak kenal musim. Perawatan yang tepat kami enggak tahu juga karena enggak ada pendampingan,” katanya.

Ia mengatakan, pola ini diubah setelah adanya pendampingan. Pola tanam disesuaikan dengan waktu yang cocok untuk menanam.

“Kita tanam cabai itu tumpang sari dengan padi atau jagung. Sekarang sedang kita coba juga tanam bawang merah. Kita menanam cabai merah setelah kita tanam padi 1 bulan. Jadi serangannya berkurang ke cabai merah. Saat padinya panen, cabai kita sudah besar dan tahan terhadap OPT,” katanya.

Ia mengatakan, dengan adanya pendampingan BI pengolahan lahan jadi lebih sempurna karena BI juga memberikan alsintan (alat mesin pertanian) untuk membuat bedengan, ada alat untuk mencincang tanah agar tanahnya gembur, dan berbagai alat lainnya. BI juga membuat training center dan mini lab.

“Dengan alsintan, pekerjaan jadi lebih efisien dan kedalaman tanahnya jadi seragam dibandingkan menggunakan tenaga manusia. Kami juga punya benih unggulan yang sudah kami kembangkan sejak dulu. Jadi dengan pola tanam yang tepat, pengolahan lahan dan benih yang cocok mendorong peningkatan hasil panen yang maksimal. Apalagi ditambah ketersediaan pupuk kompos karena kami memiliki ternak sendiri,” katanya.

Dari sisi pengolahan dan pemasaran pihaknya juga dibantu oleh BI. Untuk mengantisipasi jika terjadi penurunan harga cabai merah, BI memberikan pelatihan untuk pengolahan cabai merah.

“Hasilnya ada sambal saos cabai, cabai bubuk, bon cabai, dan cabai merah. Saat ini produk kita sedang mediasi dengan Sayur Box di Bogor,” katanya.

 

(Bagus)

Facebook Comments
Tags

Tulisan terkait

Bimata
Close