Bimata

PERAN NILAI PELANGGAN , DITENGAH MARAKNYA WARUNG KOPI DIKOTA BEKASI

Athea Sarastiani, Penulis adalah mahasiswi program Doktor Ilmu Ekonomi konsentrasi Service Management, Fakultas Ekonomi dan Bisnis , Universitas Trisakti

Secara geografis, kota Bekasi merupakan bagian dari Provinsi Jawa Barat, yang berbatasan langsung dengan Ibu Kota DKI Jakarta,  dari pusat administrasi Kota Bekasi untuk masuk wilayah Kota Jakarta, hanya berjarak 19,5 Km , dapat ditempuh melalu jalan toll ataupun jalan alternatif .

Ketentuan Pembatasan Social Berskala Besar ( PSBB) pun, diinstruksikan oleh Gubernur Jawa Barat, untuk mengikuti peraturan yang ditetapkan Gubernur DKI, mengingat banyaknya warga Kota Bekasi yang bekerja di Jakarta, ketimbang di Kota Bandung, tentu ini dilakukan demi menjaga kesehatan warganya.

Maraknya warung Kopi

Saat ini Kota Bekasi menerapkan Adaptasi Tatanan Hidup Baru , dengan tetap mengikuti protocol kesehatan serta tatanan budaya yang ditetapkan, hal ini semata mempertimbangkan keberlangsungnya perekonomian masyarakat Kota Bekasi. Banyaknya pegawai yang bekerja dari rumah dan sebagian ada pula yang dirumahkan hingga kondisi membaik, mengakibatkan bermunculan usaha-usaha penyedia minuman kopi, dalam berbagai skala dan tingkat investasi.

Hampir disetiap jalan-jalan ekonomi dan perumahan warga kota Bekasi  dapat kita temui tempat ngopi istilah kekiniannya atau warung kopi, disinyalir pertumbuhan ini disebabkan sebagai dampak COVID 19 yang masih menjadi pandemic diseluruh negara didunia saat ini. Meski pembatasan terhadap jumlah berkumpul disatu titik diberlakukan, namun kebutuhan ekonomi menjadi unsur utama dalam terbentuknya tempat ini. Tidak ada data resmi untuk jumlah keseluruhan warung kopi yang ada saat ini, namun dirasakan, makin bertambah disetiap jalan jalan di kota Bekasi. Selain mudah mendapatkan pelanggan ,sumber daya keuangan yang dapat menyesuaikan kondisi,  pengusahaan pun dengan mudah mendapatkan kebutuhan dasarnya.

Nilai Pelanggan

Sebuah peluang yang benar menjanjikan dan bila dirawat dengan baik sesuai segment pasarnya, kinerjapun dapat disempurnakan untuk berkelanjutan.

Maka bisnis ini menjadi demikian marak dan persaingan usaha dalam pasar yang sama, menjadi perebutan diantara pengusaha kopi, pebisnis berlomba menciptakan suatu keunikan dengan biaya minim untuk menarik pelanggan yang mendapat tawaran pasar sedemikian berlimpah.

Memberikan nilai pelanggan atau Customer Value , menjadi alternatif disodorkan kepada pelanggan, meski tidak mudah dilakukan pebisni, cara menerpakan nilai pelanggan akan dirasakan lebih efisien dan lebih baik dalam memenangkan pertempuran persaingan yang ujungnya menghasikan pendapatan yang lebih baik.

Penawaran dari pengusaha , harus ditargetkan memenuhi kebutuhan pelanggan, meski sering kali terpecah antara produk dan layanan, sehingga diperlukan suatu pemahaman yang lebih rinci dan selaras dalam menghubungkan penawaran tersebut kepada pelanggannya.

Sementara dari tatanan nilai pelanggan , warung kopi sebagai penyedia apa yang diinginkan pelanggan dan bersedia membayar. Jika ada keterbatasan sumber daya dari sisi pelanggan , seperti waktu dan uang , maka akan segera memilih alternatif lain yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan mereka.

Menurut peneliti, dalam menganalisis pelanggan, seorang pebisnis warung kopi, memerlukan fitur, ketersediaan, kehandalan, jaminan , empati, kesesuaian dan keamanan. Kategori umum semacam ini , membantu pebisnis dalam menilai keinginan pelanggan. Akhirnya memungkinkan suatu penilaian tentang elemen yang disukai pelanggan diindentikasikan dan dijabarkan dalam sistim penciptaan nilai untuk memaksimalkan pengharapan pelanggan.

Dari pembahasan diatas, atribut nilai dapat diturunkan dalam beberapa fungsi produk dan layanan warung kopi yang mengejar peluang pasar yang tersedia. Memang dirasakan sulit untuk menilai persepsi pelanggan tentang sistim penciptaan nilai tersebut, ini terjadi bila pebisnis belum melakukan realisasi pemberian layanan , karena sistim ini sangat terkait dengan proses yang dilalui oleh pelanggan. Mulai dari tingkat penawaran produk, yang biasanya memiliki fungsi utama, menghasilkan manfaat pada beberapa atribut nilai.

Menganalisa nilai pelanggan memerlukan pemahaman tentang bisnis dan produk yang dihasilkan , hasil dari analisis ini merupakan ilustrasi prioritas relative untuk arus nilai pelanggan dalam model bisnis yang ditekuni.

Langkah pebisnis

Pada akhirnya, lingkungan dan infrastuktur bisnis kekinian, telah memungkinan melakukan penawaran moduler yang berarti kepada pelanggan, dengan ditawarkannya bentuk pelayanan yang dapat bekerja sama dan mulus disampaikan. Bahkan jika pebinis kopi mampu  memberikan beragam produk dan layanan kepada pelanggannya, ini ada kemungkinan lebih berharga daripada lainnya.

Singkat kata, bila pebisnis mampu berkonsentrasi pada peningkatan fungsi inti penawaran, maka pebinis warung kopi akan mendapatkan keunggulan kompetitif dan deferensiasi berbasis nilai atas para pesaingnya.

(****)

 

Exit mobile version