Bimata

Bazar Murah Undang Kerumunan di Jatim

BIMATA.ID, JAKARTA- Pendapa Bupati Bondowoso mendadak sedikit ramai kemarin siang. Mereka berkerumun dalam satu tenda panjang. Puluhan ibu-ibu itu hendak membeli sembako murah. Bahkan, mereka berjubel guna memilih sembako yang ingin dibeli. Banyak dari pembeli yang merupakan aparatur sipil negara (ASN).

Akhirnya menimbulkan persepsi kerumunan dan mengabaikan physical distancing. Padahal saat ini masih dalam rangka perang melawan Covid-19. Pemerintah juga masih menggembar-gemborkan penanggulangan virus korona. Suasana tersebut menjadi sangat ironis.

Kerumunan di tenda depan pendapa bupati itu adalah agenda bazar pangan murah berkualitas. Dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur bersama-sama dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Bondowoso. Sejumlah komoditas pasar dalam bazar itu dijual dengan harga murah. Mulai dari gula, minyak goreng, telur, beras, gula pasir, bawang merah, dan masih banyak lainnya.

Masyarakat dan sejumlah ASN menyerbu stan bazar itu. Meskipun sudah disampaikan imbauan jaga jarak, kerumunan memilah-milah sembako tak dapat dihindarkan. Pudji Ningsih, Kepala Bidang Ketahanan Pangan, Dinas Pertanian, dan Ketahanan Pangan Pemprov Jatim, mengaku bahwa diadakannya bazar murah itu untuk masyarakat.

“Mempermudah masyarakat yang terdampak Covid-19 dalam mengakses pangan berkualitas,” bebernya.

Masyarakat dapat membeli bahan pangan murah dalam bazar pangan murah tersebut. Tetapi, jumlah bahan pangan yang dibeli tetap dibatasi.

“Bazar pangan ini juga merupakan upaya untuk mengendalikan harga pangan di tingkat petani, produsen, dan konsumen. Sekaligus menyampaikan bahwa stok pangan dalam jumlah cukup. Sehingga harga komoditas pangan bisa murah dan tetap menguntungkan para petani,” imbuh Pudji.

Lebih lanjut, kegiatan tersebut menggandeng gapoktan atau Lembaga Usaha Pangan Masyarakat (LUPM) dan Toko Tani Indonesia Agar diberdayakan untuk dapat menjalankan fungsi sebagai lembaga distribusi dalam suatu rantai distribusi Yang lebih efisien nantinya.

“Sehingga dapat mengurangi disparitas harga antara produsen dan konsumen,” ungkapnya.

Selisih harga dalam bazar tersebut memang cukup signifikan. Harga jual di bazar dan di pasar berkisar sekitar RP 1.000 hingga Rp 3.000.

“Artinya, para petani memperoleh keuntungan. Pedagang memperoleh marjin keuntungan yang wajar dan aksesibilitas masyarakat dalam pemenuhan bahan pangan dapat harga terjangkau,” pungkasnya.

Exit mobile version