Bimata

Olah Sampah Plastik di Bantargebang Jadi Sumber Energi Terbarukan

BIMATA.ID, JAKARTA- Sampah yang menumpuk di Bantargebang makin meninggi nyaris tak terkendali. Kapasitas penampungannya juga semakin menipis dan diperkirakan akan mencapai titik maksimum dalam beberapa tahun ke depan. Di antara beragam jenis sampah, plastik menjadi salah satu komponen tertinggi selain limbah rumah tangga. Perlu penanganan ekstra dan progresif agar tak berhenti jadi sampah semata.

Sejumlah pihak berkolaborasi untuk menambang sampah plastik (landfill mining) di zona tak aktif Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi. Proses tersebut nantinya akan menyisihkan sampah plastik yang kemudian diproses menjadi bahan bakar alternatif, Refuse Derived Fuel (RDF), untuk menggantikan batu bara dalam industri semen terbesar di Indonesia.

Pihak yang berkolaborasi dalam pendaurulangan sampah plastik jadi bahan bakar terbarukan itu terdiri dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, PT Solusi Bangun Indonesia, Tbk (SBI), dan PT Unilever Indonesia, Tbk. Kepala DLH DKI Jakarta, Andono Warih, menilai kerja sama ini sebagai langkah proaktif dan upaya konkret produsen dalam mengatasi permasalahan sampah plastik di Indonesia. Menurutnya kolaborasi dan pembagian peran termasuk kepada para produsen sangatlah penting dalam upaya mengatasi pencemaran lingkungan.

“Pihak produsen memiliki peran yang besar untuk ikut mengatasi persoalan sampah plastik bersama pemerintah dan masyarakat, layaknya Unilever Indonesia dan PT SBI sebagai mitra kami dalam proyek ini. Semoga kerja sama ini mampu menstimulasi kolaborasi serupa di masa mendatang,” ungkapnya dalam rilis yang diterima Liputan6.com, Kamis, 1 Oktober 2020.

Proyek percontohan penambangan sampah untuk dijadikan RDF sebenarnya sudah berjalan sejak tahun lalu. Lokasinya berada di Zona IV TPST Bantargebang yang sudah berusia lebih dari satu dekade.

Prosesnya dimulai dengan penggalian, lalu pengayakan sampah, setelah itu barulah dikirimkan ke pabrik PT SBI untuk dihancurkan dan dikeringkan. Dengan berjalannya proyek ini, sekitar 1.000 ton RDF yang mengandung 80 hingga 90 persen sampah plastik akan dihasilkan per bulannya.

Direktur PT SBI, Tbk. Lilik Unggul Raharjo juga menyambut baik kerja sama dengan Unilever Indonesia sebagai pihak produsen pertama yang terlibat dalam kolaborasi tersebut.

“Dengan misi sejalan untuk melestarikan lingkungan melalui pengelolaan sampah yang optimal dan terintegrasi, Unilever Indonesia akan terlibat dalam mendukung operasional proses crushing dan drying di fasilitas kami untuk turut memastikan bahwa kapasitas dan  kualitasnya dapat terus ditingkatkan,” imbuhnya.

Exit mobile version