Bimata

Petani Dihantu Hama, Potensi Realisasi Ketahanan Pangan Jadi Mimpi Belaka

BIMATA.ID, JAKARTA- Ketahanan pangan terus menerus digelorakan kepada masyarakat ditengah pandemi Covid-19. Kondisi ini dirasakan petani berbanding terbalik, karena imbauan ketahanan pangan itu, tak disertai pemenuhan sarana prasarana peningkatan produksi.

Seperti ketersediaan pupuk yang ideal sesuai kebutuhan petani dan jaminan pembelian gabah petani dengan harga mahal belum terwujud.

Kenyataan pengalaman pahit petani, dirasakan berulang-ulang setiap tahun belakangan ini. Akibatnya, banyak petani hanya menjadi “daki”, tak meraih untung. Kalaupun ada petani berdasi, hanya segelintir orang saja.

Menurut seorang petani sekaligus Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kec Purwaharja, Otong Revolusianto, nasib petani selalu merugi.

Otong mengungkapkan, biaya pengeluaran untuk pengolahan lahan dan pemeliharan, termasuk pemupukan dan pestisida, per 100 bata itu sebesar Rp 1,2 juta.

“Sementara, harga penjualan gabah kering giling sebesar Rp 450 ribu per kuintal. Kenyataan ini, jelas petani rugi dan harus nombok modal. Karena, biaya pengeluaran lebih besar dibanding pendapatan hasil panen,” ujar Otong.

Selain permasalahan itu, dikatakan dia, petani selalu dihantui hama dan penyakit. Seperti kehadiran wereng cokelat dan keong mas.

“Gara-gara keong mas merajalela, menyerang tanaman padi yang baru ditanam, banyak petani di kawasan Purwaharja yang menanam padi sampai tiga kali dalam satu musim,” ujarnya.

Selain itu, petani di Kota Banjar sekarang ini banyak yang merasakan kesulitan mencari pupuk bersubsidi. Seperti, pupuk ponska dan SP 36.

 

Exit mobile version