Bimata

Berawal Dari Ketertarikan Terhadap Pertanian, Kini Omsetnya Sampai Rp 800 Juta Per Bulan

BIMATA.ID, JAKARTA- Duta Petani Milenial Kementerian Pertanian Sandi Octa Susila pada usia 27 tahun telah mengelola 120 hektar tanah pertanian. Garapan tanah itulah yang membantu Sandi secara bertahap meraup omzet dari Rp500 juta sampai Rp800 juta per bulan.

Perjalanan Sandi menjadi petani tak lepas dari perjalanan studi di IPB jurusan S1 Agronomi dan Holtikultura serta S2 untuk Master Manajemen Agribisnis (MMB). Pada suatu ketika, pria yang akrab dipanggil Kang Sandi ini kembali ke Kampung halamannya di Desa Tegallega, Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur. Dalam kunjungan ke kebun sang Ayah, Sandi menemukan banyak hasil panen yang diletakkan begitu saja di tanah, menunggu tengkulak atau pembeli datang.

“Ketertarikan saya pada pertanian tumbuh karena saya menemukan permasalahan petani bukan hanya produksi tetapi juga pemasaran. Maka saya coba kembangkan pertanian ini dalam skala modern market, bukan lagi traditional market,” ujar Sandi.

Perjalanan awal Sandi dengan bisnis online produk pertanian berjalan cukup lancar, hingga akhirnya pada 2015, dia sempat menjadi korban penipuan. Dia merugi sekitar Rp60 juta, apalagi modal untuk pengiriman produk saat itu masih dia pinjam dari sang ayah.

Dengan cepat, Sandi belajar dari kesalahan dan trik penipuan dagang online. Dia pun mulai mencari peluang lain untuk menstabilisasi bisnisnya. Bangkit dan dengan sigap, Sandi memanfaatkan jejaring dan kenalan di IPB International Convention Center (IICC). Dia pun berhasil menandatangani kerjasama menjadi supplier bahan baku makanan di hotel tersebut.

“Saya lalu kirim kaylan, pakcoy dan produk pertanian lainnya. Jika petani tidak bisa memenuhi pesanan, saya bahkan turun ke pasar tradisional untuk menutupi kekurangannya,” kata Sandi.

Dia masuk ke business to business platform dengan e-commerce untuk memasarkan produk pertanian di Cianjur. Geliat pertumbuhan penjualan produk pertanian secara daring yang menguntungkan menambah tingkat kepercayaan petani di Cianjur. Awalnya Sandi yang hanya mengkoordinasikan 10 petani, kemudian bertambah menjadi 20 petani.

“Saat ini bahkan sudah mencapai 385 petani dengan 141 pproduk yang dikelola,” sambungnya.

Perjalanan awal Sandi dengan bisnis online produk pertanian berjalan cukup lancar, hingga akhirnya pada 2015, dia sempat menjadi korban penipuan. Dia merugi sekitar Rp60 juta, apalagi modal untuk pengiriman produk saat itu masih dia pinjam dari sang ayah.

Dengan cepat, Sandi belajar dari kesalahan dan trik penipuan dagang online. Dia pun mulai mencari peluang lain untuk menstabilisasi bisnisnya. Bangkit dan dengan sigap, Sandi memanfaatkan jejaring dan kenalan di IPB International Convention Center (IICC). Dia pun berhasil menandatangani kerjasama menjadi supplier bahan baku makanan di hotel tersebut.

Exit mobile version