Bimata

Ilmuan Hasilkan Energi Dari Bayangan

BIMATA.ID, JAKARTA- Informasi ini mungkin terdengar seperti film fiksi ilmiah, tapi hal ini nyata bahwa ilmuwan berhasil membuat perangkat prototipe yang dapat mengubah bayangan menjadi listrik. Melansir Science Alert, Selasa (9/6/2020), perangkat ini disebut Shadow-Effect Energy Generator (SEG).

Studi ini telah dipublikasikan dalam jurnal Energy & Environmental Science. Bila sel surya menolak adanya bayangan karena dapat mengganggu kestabilan cahaya yang merupakan bahan utama untuk memproduksi energi, sebaliknya, SEG justru memanfaatkan bayangan.

Peneliti menilai, hal tersebut membuat perangkat SEG sebagai energi terbarukan yang lebih murah untuk diproduksi dibandingkan sel surya.

” Bayangan ada di mana-mana, dan kita sering menganggapnya remeh,” kata Tan Swee Ching, ilmuwan dari National University of Singapore (NUS).

SEG menggunakan kontras antara gelap dan terang untuk menghasilkan listrik. Perangkat ini terdiri dari serangkaian strip tipis film emas pada wafer silikon dan ditempatkan di atas dasar plastik yang fleksibel. Ching menjelaskan, perangkat ini memanfaatkan kontras iluminasi yang disebabkan oleh bayangan sebagai sumber daya tidak langsung.

Kontras dalam iluminasi menginduksi perbedaan tegangan antara bayangan dan bagian yang diterangi untuk menghasilkan arus listrik. Konsep baru ini menghasilkan energi dalam kehadiran bayangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Perbedaan antara bayangan dan cahaya itulah yang membuat perangkat SEG efektif.

Berada dibawah bayangan yang bergerak dan berubah, membuat SEG dua kali lebih efektif daripada sel surya konvensional dalam kondisi yang sama. Ketika seluruh perangkat SEG ditempatkan di bawah bayangan atau seluruhnya ditempatkan di bawah cahaya, energi listrik yang dihasilkan sangat rendah. Bahkan bisa sama sekali tidak menghasilkan listrik.

Dengan bayangan yang terus bergerak dan berubah, seperti disebabkan pergerakkan awan atau ranting-ranting pohon, SEG baru dapat menghasilkan energi listrik yang efektif. Prototipe ini mampu menghasilkan daya 1,2 Volt yang cukup untuk menjalankan jam tangan digital. Peneliti menyakini kemampuan perangkat SEG ini bisa ditingkatkan di masa mendatang. Selain menghasilkan energi listrik, SEG juga berfungsi ganda sebagai sensor yang dapat merekam pergerakkan bayangan dari objek yang melewatinya.

Tentunya penelitian ini perlu terus dikembangkan untuk benar-benar bisa diproduksi dan digunakan secara massal. Salah satunya, para peneliti mencoba untuk menurunkan biaya produksi SEG, mungkin dengan mengganti film emas dengan bahan yang berbeda. “Dengan efisiensi, kesederhanaan, dan stabilitas biaya, SEG menawarkan arsitektur yang menjanjikan untuk menghasilkan energi ramah lingkungan dari kondisi sekitar,” tulis peneliti.

 

Sumber:Kompas.com

Exit mobile version