PertanianBeritaEkonomiPerikananPerkebunanRegional

KTNA Pertanyakan Kejelasan Pinjaman Kredit Di Bank

BIMATA.ID, JAKARTA- Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) mempertanyakan nasib para petani yang statusnya peminjam kredit di lembaga keuangan (bank dan non bank). Tidak sedikit diantara petani yang berproduksi menggunakan dana bank. Ketua KTNA Kota Mataram, Japri menanyakan kejelasan hal itu.

Menurutnya, untuk petani yang bermitra langsung dengan stakeholders di sektor pariwisata, baik hotel, restoran, maupun ritel modern saat ini sangat merasakan dampak mewabahnya virus corona. Kegiatan pertanian, terutama petani hortikultura saat ini mengalami kelesuan akibat penurunan permintaan dan daya beli. “Petani-petani yang minjam uang di bank ini bagaimana. Bisa penundaan pembayaran,” kata Japri.

Ia menggambarkan kondisi pertanian hortikultura saat ini. Japri sendiri adalah salah satu dari beberapa petani modern yang memanfaatkan teknologi prtanian sederhana di Kota Mataram. Dilahan pertanian miliknya yang hanya beberapa are, ia sulap menjadi lahan pertanian yang sangat produktif. Lahan pertaniannya inipun acapkali dijadikan laboratorium dan tempat belajar para petani, maupun mahasiswa.

Japri selama ini menjadi pemasok hasil pertanian hortikultura, khususnya sayur mayur. Setelah mewabahnya Covid-19 ini, lalu berdampak kepada anjloknya sektor periwisata NTB, ia menjadi kehilangan pasar. Hotel, restoran, rumah makan dan ritel modern yang selama ini ia pasok sebagian kebutuhannya, belakangan tak ada lagi permintaannya. “Semua kena dampaknya, petani hortikutura terutama sekali. Dulu permintaan untuk sayur bisa puluhan kilogram sehari untuk satu jenis. Sekarang hanya 2 kilogram,” kata Japri ditemui Suara NTB di Mataram, Kamis, 2 april 2020.

Pasar sangat lesu menurutnya, dampaknya petani tidak juga bisa berbuat banyak. Beberapa persoalan terkait diantaranya sektor pariwisata yang sangat lesu, masyarakat mulai membatasi diri keluar rumah dan berbelanja. Akibatnya, produk-produk pertanian, terutama pertanian hortikultura menjadi sangat terpengaruh permintaannya. “Wisatawan tidak ada, orang belanja ke ritel modern sangat kurang. Pasarnya menjadi lesu,” ujarnya.

  Pertumbuhan Ekonomi NTB Terendah di Indonesia

Berbeda halnya dengan petani tanaman pangan. Sementara ini menurutnya masih eksis. Demikian juga petani-petani horti yang hasil produksinya untuk memenuhi kebutuhan lokal. Misalnya tomat, cabai dan sayur buah lainnya yang dijual ke pasar tradisional. Sektor pertanian, seperti diketahui adalah sektor yang paling mendominasi PDRB NTB. Sektor ini diharapkan menjadi sektor penolong terhadap dampak merosotnya ekonomi karena corona.

Ketua KTNA Provinsi NTB, H. Hairul Warisin mengatakan, sektor pertanian sejauh ini masih eksis. Hanya saja, petani-petani yang selama ini mengandalkan pangsa pasarnya pada sektor pariwisata dan ritel modern merasakan sangat terpengaruh.

“Petani pangan, masih berjalan bagus. Bisa dilihat dari serapan pupuknya yang masih tinggi. Petani yang memiliki askes dengan hotel dan restoran, termasuk yang aksesnya ke pasar menjadi terganggu,” ujarnya.

Petani horti sementara ini belum bisa berbuat banyak. Apalagi adanya seruan membatasi diri keluar rumah tentu menjadi pertimbangan bagi petani-petani memanen hasil pertaniannya. Terutama tanaman sayur buah tak tahan lama. “Sementara belum bisa berbuat banyak,” demikian anggota DPRD Provinsi NTB ini.

 

Sumber :suarantb.com

Editor :ZBP

Facebook Comments
Tags

Tulisan terkait

Bimata
Close