Bimata

Italia Klaim Berhasil Turunkan Penularan Corona Setelah 2 Pekan Lockdown

BIMATA.ID, Jakarta – Sudah lebih dari sepekan Italia berlakukan lockdown, apakah hal itu sudah berhasil mengatasi penyebaran virus Corona di Italia?

Kondisi yang ada di Italia yakni pergerakan warga dibatasi, semua toko tutup kecuali apotek dan tempat persediaan makanan, perusahaan-perusahaan diperintahkan untuk menghentikan segala kegiatan non-utama, gedung pertunjukan, sekolah, tempat cukur rambut, museum, semua tutup. Penerbangan ditutup. Negara-negara di dunia juga melarang penerbangan menuju Italia.

Dilansir BBC, Jumat (20/3/2020), Menteri Luar Negeri Italia, Luigi Di Maio, menyatakan lockdown sudah menunjukkan tanda-tanda keberhasilannya mengatasi Corona, khususnya untuk area yang terdampak COVID-19 di awal periode.

10 Kota di Italia belahan utara (Lombardia) dinyatakan sebagai zona merah dan sudah menjalankan lockdown sejak 23 Februari. Dua pekan setelah lockdown, ada tanda-tanda menggembirakan. Tak ada lagi laporan kasus positif COVID-19 yang baru di sana.

“Model yang berhasil adalah zona merah, kami membuatnya di 10 kota awal terdampak di kawasan Lombaria. Dua pekan setelah lockdown, mereka mencapai 0 (nol) tingkat penularan. Kemudian kami menerapkan aturan itu (lockdown) ke seluruh Italia,” kata Menlu Italia, Luigi Di Maio, dalam tayangan BBC, 19 Maret.

Otoritas setempat mengatakan, butuh dua pekan untuk melihat hasil lockdown, atau dalam bahasa Indonesia juga disebut sebagai ‘karantina wilayah’. Italia percaya, mereka bisa membantu negara lain.

Kawasan Vo Euganeo, Kota Veneto, Provinsi Padova adalah salah satu kawasan Italia utara yang diamuk COVID-19 sejak Februari. Kawasan ini juga termasuk awal menerapkan lockdown. 3.300 Orang di kawasan Vo Euganeo dites lagi.

Dilansir Independen dari berita Kamis (19/3) kemarin, hasil tes tersebut menunjukkan hanya 3 persen saja yang masih terinfeksi. Mayoritas sisanya tidak menunjukkan gejala flu apapun. Tes itu dilakukan Universitas Padua.

“Kami bisa menunjukkan bahwa langkah isolasi untuk semua kasus positif COVID-19 bisa menurunkan tingkat penularan,” kata Profesor mikrobiologi Universitas Padua, Andrea Crisanti.

“Masalahnya adalah orang-orang tanpa gejala yang sesungguhnya positif COVID-19. Jika kami membiarkan mereka jalan-jalan, kita tidak bakal bisa memusnahkan epidemi ini,” kata Andrea Crisanti.

Dilansir CNN, pakar meragukan kemujaraban lockdown. Profesor virologi dan mikrobiologi dari Universitas Padova, Giorgio Palu, menyatakan belum ada bukti yang cukup meyakinkan sejauh ini soal keberhasilan lockdown.

“Ini masih meningkat. Jadi, menurut saya kita tidak dapat membuat prediksi hari ini,” kata Giorgio Palu yang juga mantan presiden Masyarakat Virologi Eropa dan Italia ini.

Tidak seperti birokrasi, virus tidak mengenal batas wilayah, apakah itu Lombardia atau Sicilia, virus tetap bisa menyerang. Di luar Lombardia, meski sudah dua pekan lockdown, angka penularan baru masih tinggi. Terpantau pada 19 Maret, jumlah kasus positif COVID-19 di Italia meningkat sekitar 3.500 kasus baru setiap hari.

“Isolasi adalah kunci,” kata dia.Menurut Giorgio Palu, memang lockdown belum terbukti, tapi Italia tidak punya pilihan lain selain lockdown. Semua orang harus menaati cara ini.

Kabar terbaru, Jumat (20/3/2020), jumlah kematian akibat COVID-19 di Italia meningkat sebanyak 427 orang dalam 24 jam. Padahal sehari sebelumnya, peningkatan korban jiwa adalah 475 orang.

Kini korban tewas COVID-19 Italia ada 3.405. Dengan jumlah itu, dilansir Aljazeera, Italia sudah melampaui total koban tewas di China, tempat asal virus Corona jenis baru itu.

 

Dikutip dari: detik[dot]com
Editor: akm

Exit mobile version